Pengertian semiotika secara
terminologis adalah ilmu yang mempelajari sederetan luas objek-objek,
peristiwa-peristiwa, seluruh kebudayaan sebagai tanda. Menurut Eco, semiotik
sebagai “ilmu tanda” (sign) dan segala yang berhubungan dengannya cara
berfungsinya, hubungannya dengan kata lain, pengirimannya, dan penerimaannya
oleh mereka yang mempergunakannya. Menurut Eco, ada sembilan belas bidang yang
bisa dipertimbangkan sebagai bahan kajian untuk semiotik, yaitu semiotik
binatang, semiotik tanda-tanda bauan, komunikasi rabaan, kode-kode cecapan,
paralinguistik, semiotik medis, kinesik dan proksemik, kode-kode musik, bahasa
yang diformalkan, bahasa tertulis, alfabet tak dikenal, kode rahasia, bahasa
alam, komunikasi visual, sistem objek, dan sebagainya Semiotika di bidang
komunikasi pun juga tidak terbatas, misalnya saja bisa mengambil objek
penelitian, seperti pemberitaan di media massa, komunikasi periklanan,
tanda-tanda nonverbal, film, komik kartun, dan sastra sampai kepada musik.
Berkenaan dengan hal tersebut,
analisis semiotikmerupakan upaya untuk mempelajari linguistik-bahasa dan lebih
luas dari hal tersebut adalah semua perilaku manusia yang membawa makna atau
fungsi sebagai tanda.Bahasa merupakan bagian linguistik, dan linguistik
merupakan bagian dari obyek yang dikaji dalam semiologi.Selain bahasa yang
merupakan representasi terhadap obyek tertentu, pemikiran tertentu atau makna
tertentu, obyek semiotika juga mempelajari pada masalah-masalah non linguistik.
Salah seorang sarjana yang secara
konservatif menjabarkan teori De de Saussure ialah RolandBarthes (1915 – 1980).Ia
menerapkan model Ferdinand De Saussure dalam penelitiannya tentang karya -karya
sastra dan gejala-gejala kebudayaan, seperti mode pakaian. Bagi Barthes
komponen – komponen tanda penanda – petanda terdapat juga pada tanda -tanda
bukan bahasa antara lainterdapat pada bentuk mite yakni keseluruhan si stem
citra dan kepercayaan yang dibentukmasyarakat untuk memp-ertahankan dan
menonjolkan identitasnya (de Saussure,1988).
Selanjutnya Barthes (1957 dalam de
Saussure) menggunakan teori signifiant - signifie yang
dikembangkan menjadi teori tentang metabaha sa dan konotasi. Istilah signifiant
menjadi ekspresi (E) dan signifiemenjadi isi (C). Namun Barthes mengatakan
bahwa antara E dan C harus ada relasi (R) ter-tentu, sehingga membentuk tanda (
sign, Sn). Konsep relasi ini membuat teori tentang tanda lebih mungkin
berkembang karena relasi ditetapkan oleh pemakai tanda.
Menurut Barthes, ekspresi dapat berkembang dan
membentuk tanda baru, sehingga ada lebih dari satu dengan isi yang sama.
Pengem-bangan ini disebut sebagai gejala meta -bahasa dan membentuk apa yang
disebut kesinoniman (synonymy). Setiap tanda selalu memperoleh pemaknaan
awal yang dikenal dengan dengan istilah denotasi dan oleh Barthes disebut
sistem primer.Kemudian pengembangan -nya disebut sistem sekunder. Sistem sekunder ke arah ekspresi dise but metabahasa.Sistem sekunder ke
arah isi disebut konotasi yaitu pengembangan isi sebuah ekspresi.Konsep
konotasi ini tentunya didasari tidak hanya oleh paham kognisi, melainkan juga
oleh paham pragmatik yakni pemakai tanda dan situasi pemahamannya.





