Oleh : Asep Muhammad Irfan F.
1.
Konsep
Menurut Webster dan Metrova, narasi (narrative)
adalah suatu metode penelitian di dalam ilmu-ilmu sosial. Inti dari metode ini
adalah kemampuannya untuk memahami identitas dan pandangan dunia seseorang
dengan mengacu pada cerita-cerita (narasi) yang ia dengarkan ataupun
tuturkan di dalam aktivitasnya sehari-hari (baik dalam bentuk gosip, berita,
fakta, analisis, dan sebagainya, karena semua itu dapat disebut sebagai
‘cerita’). Fokus penelitian dari metode ini adalah cerita-cerita yang didengarkan di
dalam pengalaman kehidupan manusia sehari-hari. Di dalam cerita/narasi,
kompleksitas kultural kehidupan masyarakat dapat ditangkap dan dituturkan di
dalam bahasa. Dalam arti ini cerita bukan hanya menjadi cerita saja, melainkan
menjadi bagian dari penelitian untuk memahami manusia dan dunianya Leonard
Webster dan Patricie Metrova (2007: 13).
Setiap manusia memiliki cerita. Cerita itu
bermacam-macam. Di dalam cerita terkandung nilai-nilai yang mencerminkan
pandangan dunia manusia itu, sekaligus cerita-cerita yang membentuk
identitasnya sebagai manusia. Metode naratif hendak memahami kehidupan manusia
yang memang penuh dengan ‘cerita’. Pendekatan ini lebih bersifat holistik,
detil, dan bersifat sangat kualitatif guna memahami kehidupan manusia yang
terus berubah sejalan dengan perubahan waktu. Tentu saja bagi para ilmuwan yang
menganut positivisme-saintifik (yang mempercayai keketatan metode penelitian
tradisional dan), pendekatan ini tampak tidak ilmiah. Akan tetapi tuduhan itu
tidaklah tepat. Identitas manusia dibentuk dan berkembang seturut dengan cerita
yang diajarkan kepadanya, sekaligus cerita yang dituturkan di dalam hidupnya.
Bahkan bisa dikatakan seluruh nilai-nilai yang diajarkan (terutama di
indonesia) berbasis pada tradisi oral yang mengedepankan cerita. “Narasi, dan
cerita yang ditangkapnya”, demikian tulis WM (Webster dan Metrova), “menawarkan
penelitian yang memberi penegasan tentang pengertian-pengertian yang tidak
dapat ditemukan oleh model penyelidikan tradisional Leonard Webster dan
Patricie Metrova (2007: 14).
Di dalam bukunya WM mengajukan tiga hal yang
kiranya perlu untuk memahami inti dari metode naratif. Tiga hal itu
dirumuskannya dalam tiga pertanyaan. Mengapa naratif? Mengapa cerita yang
dijadikan sebagai titik tolak penelitian? Banyak ilmuwan berpendapat bahwa
pengalaman manusia terkait dengan cerita, yakni cerita yang diajarkan
kepadanya, maupun cerita tentang hidupnya. Inilah pertanyaan pertama yang perlu
terlebih dahulu dijawab. Pertanyaan kedua adalah apa keunggulan metode naratif
di dalam penelitian tentang manusia? Untuk mengetahui keunggulan metode ini,
kita perlu memahami dasar filosofis dan metodis di baliknya. Pertanyaan ketiga
adalah aspek-aspek apa sajakah yang perlu dikuasai di dalam model penelitian
naratif? Seperti metode penelitian lainnya, metode penelitian naratif memiliki
prinsip-prinsip. Prinsip-prinsip itu haruslah diperhatikan dan dikuasai
terlebih dahulu sebelum memulai penelitian. Dengan menjawab tiga pertanyaan
itu, maka metode penelitian naratif dapatlah dirumuskan sebagai metode
penelitian yang sifatnya koheren dan integral. Di dalam cerita-cerita yang
diajarkan secara turun temurun terkandung nilai-nilai yang membentuk pribadi
seseorang. Dengan memahami cerita-cerita turun temurun, dan cerita-cerita
lainnya yang kita dengar ataupun tuturkan di dalam kehidupan kita, dalam kaitan
dengan cerita hidup manusia nyata yang beraktivitas di dalam dunia, kita bisa
memperoleh pengetahuan yang sebelumnya terlupakan di dalam metode penelitian
tradisional Leonard Webster dan Patricie Metrova (2007: 14).
2.
Prosedur
a.
Mengembangkan
pertanyaan penelitian
Sebuah studi kualitatif yang berusaha untuk mempelajari mengapa
atau bagaimana, sehingga penelitian model ini harus diarahkan pada
menentukan mengapa dan bagaimana dari topik penelitian yang
diteliti. Oleh karena itu, ketika menyusun pertanyaan penelitian untuk studi
kualitatif penulis harus bertanya mengapa atau bagaimana
pertanyaan tentang topik tersebut.
b.
Buatlah
semacam data mentah
Data mentah cenderung transkripsi wawancara, tetapi juga dapat
merupakan hasil dari catatan lapangan yang dikumpulkan selama observasi
partisipan atau dari bentuk-bentuk pengumpulan data yang dapat digunakan untuk
menghasilkan sebuah narasi Coffey (1996).
c.
Mengolah
data
· Menurut Polkinghorne, tujuan pengorganisasian data untuk menjawab
pertanyaan penelitian dan informasi yang tidak relevan atau berlebihan terpisah
dari apa yang akhirnya akan dianalisis, kadang-kadang disebut sebagai "narasi
smoothing" Polkinghorne (1995).
· Beberapa pendekatan untuk mengorganisasi data adalah sebagai
berikut:
(Ketika memilih
sebuah metode organisasi, seorang peneliti seharusnya memilih pendekatan yang
paling sesuai dengan pertanyaan penelitian dan tujuan sebuah proyek. Misalnya, Gee's
method of organization would be best if studying the role language plays in
narrative construction whereas Labov's method would more ideal for examining a
certain event and its effect on an individual's experiences Riessman (1993) dan Smith (2000).
Ø Labov s : Organisasi Tematik atau Organisasi sinkronis William (1972).
Cara ini
dianggap berguna untuk memahami peristiwa besar dalam narasi dan efek
peristiwa-peristiwa terhadap individu membentuk narasi Smith (2000). Pendekatan
ini menggunakan sebuah "model evaluasi " yang mengatur data ke
abstrak (What was this about?) , orientasi Who? What? When? Where?) ,
komplikasi (Then what happened?) , evaluasi (So what?) , hasil (What finally
happened?) , dan koda (the finished narrative) Coffey
(1996). Elemen narasi mengarahkan terhadap hal yang tidak mungkin
terjadi dalam urutan konstan, beberapa atau reoccurring elemen mungkin
ada dalam sebuah narasi tunggal.
d.
Menafsirkan data: Beberapa paradigma
/ teori yang
dapat digunakan untuk menginterpretasikan data:
3.
Contoh Judul
Studi
Analisis Naratif: Representasi Pesantren dalam Film “3 Doa 3 Cinta”





