ALIRAN JABARIYAH
MAKALAH
diajukan
untuk Memenuhi Salah Satu Tugas pada Mata Kuliah Madzahib Al-Fiqh wa Aqidah yang diampu oleh Dr. H. Agus Salam Rahmat, M.Pd

Disusun oleh :
Rohmah
Nurhayati 0802499
M. Nurman Putra Munggaran 1002598
Asep
Bustanul Arifin 1000656
Desi St.
Humaira 1006664
Annisa St. Khoerunnisa 1003139
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Persoalan
Iman (aqidah) agaknya merupakan aspek utama dalam ajaran Islam yang didakwahkan
oleh Nabi Muhammad. Pentingnnya masalah aqidah ini dalam ajaran Islam tampak
jelas pada misi pertama dakwah Nabi ketika berada di Mekkah. Pada periode
Mekkah ini, persoalan aqidah memperoleh perhatian yang cukup kuat dibanding
persoalan syari’at, sehingga tema sentral dari ayat-ayat al-Quran yang turun
selama periode ini adalah ayat-ayat yang menyerukan kepada masalah keimanan.
Berbicara
masalah aliran pemikiran dalam Islam berarti berbicara tentang Ilmu Kalam.
Kalam secara harfiah berarti “kata-kata”. Kaum teolog Islam berdebat dengan
kata-kata dalam mempertahankan pendapat dan pemikirannya sehingga teolog
disebut sebagai mutakallim yaitu ahli debat yang pintar mengolah kata. Ilmu
kalam juga diartikan sebagai teologi Islam atau ushuluddin, ilmu yang membahas
ajaran-ajaran dasar dari agama. Mempelajari teologi akan memberi seseorang
keyakinan yang mendasar dan tidak mudah digoyahkan. Munculnya perbedaan antara
umat Islam. Perbedaan yang pertama muncul dalam Islam bukanlah masalah teologi
melainkan di bidang politik. Akan tetapi perselisihan politik ini, seiring
dengan perjalanan waktu, meningkat menjadi persoalan teologi.
Perbedaan
teologis di kalangan umat Islam sejak awal memang dapat mengemukan dalam bentuk
praktis maupun teoritis. Secara teoritis, perbedaan itu demikian tampak melalui
perdebatan aliran-aliran kalam yang muncul tentang berbagai persoalan. Tetapi
patut dicatat bahwa perbedaan yang ada umumnya masih sebatas pada aspek
filosofis diluar persoalan keesaan Allah, keimanan kepada para rasul, para
malaikat, hari akhir dan berbagai ajaran nabi yang tidak mungkin lagi ada
peluang untuk memperdebatkannya. Misalnya tentang kekuasaan Allah dan kehendak
manusia, kedudukan wahyu dan akal, keadilan Tuhan. Perbedaan itu kemudian
memunculkan berbagai macam aliran, yaitu Mu'tazilah, Syiah, Khawarij, Jabariyah
dan Qadariyah serta aliran-aliran lainnya.
Makalah
ini akan mencoba menjelaskan aliran Jabariyah. Dalam makalah ini penulis hanya
menjelaskan secara singkat dan umum tentang aliran Jabariyah. Mencakup di
dalamnya adalah latar belakang lahirnya sebuah aliran dan ajaran-ajarannya
secara umum.
B.
Rumusan
Masalah
Dalam
penulisan makalah ini, penulis memiliki beberapa rumusan masalah yang akan
dibahas di dalamnya, ialah sebagai berikut :
a.
Sejarah munculnya serta pengertian aliran
Jabariyah?
b.
Apakah latar belakang munculnya aliran teologi
Jabariyah?
c.
Apa saja ajaran dari Aliran Jabariyah?
d.
Apa saja refleksi pemahaman dari aliran
tersebut?
e.
Apa saja Dalil-dalil yang dipakai?
f.
Siapa saja pemimpin penganut aliran Jabariyah?
g.
Apa saja ciri-ciri aliran Jabariyah?
C.
Manfaat
Penulisan
Berdasarkan
Rumusan masalah di atas, penulis menulis
makalah ini bertujuan sebagai berikut:
a.
Mengetahui sejarah munculnya serta pengertian
aliran Jabariyah
b.
Mengetahui latar belakang
munculnya aliran jabariyah
c.
Mengetahui dan memahami
ajaran-ajarannya
d.
Mengetahui refleksi pemahaman dari
aliran jabariyah
e.
Mengetahui dalil pemahaman aliran
jabariyah
f.
Mengetahui para pemimpin aliran
jabariyah
g.
Mengetahui ciri-ciri aliran
jabariyah
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah munculnya serta Pengertian
aliran Jabariyah
Kata "Jabariyah" berasal dari kata bahasa arab
"Jabara" yang artinya memaksa. Dan yang dimaksud adalah suatu
golongan atau aliran atau kelompok yang berfaham bahwa semua perbuatan manusia
bukan atas kehendak sendiri, namun ditentukan oleh Allah SWT. Dalam arti bahwa
setiap perbuatan yang dilakukan oleh manusia baik perbuatan buruk, jahat dan
baik semuanya telah ditentukan oleh Allah SWT dan bukan atas kehendak atau
adanya campur tangan manusia.
Jabariah adalah pendapat yang tumbuh dalam masyarakat Islam yang
melepaskan diri dari seluruh tanggungjawab. Maka Manusia itu disamakan dengan
makluk lain yang sepi dan bebas dari tindakan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan kata lain, manusia itu diibaratkan benda mati yang hanya bergerak dan
digerakkan oleh Allah Pencipta, sesuai dengan apa yang diinginkan-Nya. Dalam
soal ini manusia itu dianggap tidak lain melainkan bulu di udara dibawa angin
menurut arah yang diinginkan-Nya. Maka manusia itu sunyi dan luput dari ikhtiar
untuk memilih apa yang diinginkannya sendiri. Ini dapat diartikan pula bahwa
manusia itu akhirnya tidak bersalah dan tidak berdosa, sebab ia hanya
digerakkan oleh kekuatan atasan dimana ia tidak lain laksana robot yang mati,
tidak berarti.
Golongan Jabariyah pertama kali muncul di Khurasan (Persia) pada saat
munculnya golongan Qodariyah, yaitu kira-kira pada tahun 70 H. Aliran ini
dipelopori oleh Jahm bin Shafwan, aliran ini juga disebut Jahmiyah. Jahm bin
Shafwan-lah yang mula-mula mengatakan bahwa manusia terpasung, tidak mempunyai
kebebasan apapun, semua perbuatan manusia ditentukan Allah semata, tidak ada
campur tangan manusia.
Mengenai asal usul serta akar kemunculan aliran Jabariyah ini tidak lepas
dari beberapa faktor. Antara lain :
1.
Faktor Politik
Pendapat Jabariah diterapkan di masa kerajaan Ummayyah (660-750 M). Yakni
di masa keadaan keamanan sudah pulih dengan tercapainya perjanjian antara
Muawiyah dengan Hasan bin Ali bin Abu Thalib, yang tidak mampu lagi menghadapi
kekuatan Muawiyah. Maka Muawiyah mencari jalan untuk memperkuat kedudukannya.
Di sini ia bermain politik yang licik. Ia ingin memasukkan di dalam pikiran
rakyat jelata bahwa pengangkatannya sebagai kepala negara dan memimpin ummat
Islam adalah berdasarkan "Qadha dan Qadar/ketentuan dan keputusan Allah
semata" dan tidak ada unsur manusia yang terlibat di dalamnya.
Golongan Jabariyah pertama kali muncul di Khurasan (Persia) pada saat
munculnya golongan Qodariyah, yaitu kira-kira pada tahun 70 H. Aliran ini
dipelopori oleh Jahm bin Shafwan, aliran ini juga disebut Jahmiyah. Jahm bin
Shafwan-lah yang mula-mula mengatakan bahwa manusia terpasung, tidak mempunyai
kebebasan apapun, semua perbuatan manusia ditentukan Allah semata, tidak ada
campur tangan manusia.
Paham Jabariyah dinisbatkan kepada Jahm bin Shafwan karena itu kaum
Jabariyah disebut sebagai kaum Jahmiyah, Namun pendapat lain mengatakan bahwa
orang yang pertama mempelopori paham jabariyah adalah Al-Ja'ad bin Dirham, dia
juga disebut sebagai orang yang pertama kali menyatakan bahwa Al-Quran itu
makhluq dan meniadakan sifat-sifat Allah. Disamping itu kaum Jahmiyah juga
mengingkari adanya ru'ya (melihat Allah dengan mata kepala di akhirat).
Meskipun kaum Qadariyah dan Jahmiyah sudah musnah namun ajarannya masih tetap
dilestarikan. Karena kaum Mu'tazilah menjadi pewaris kedua pemahaman tersebut
dan mengadopsi pokok-pokok ajaran kedua kaum tersebut. Selanjutnya ditangan
Mu'tazilah paham-paham tersebut segar kembali. Sehingga Imam As-Syafi'i
menyebutnya Wasil, Umar, Ghallan al-Dimasyq sebagai tiga serangkai yang seide
itulah sebabnya kaum Mu'tazilah dinamakan juga kaum Qadariyah dan Jahmiyah.
2. Faktor Geografi
Para ahli sejarah pemikiran mengkaji melalui pendekatan geokultural
bangsa Arab. Kehidupan bangsa Arab yang dikungkung oleh gurun pasir sahara
memberikan pengaruh besar ke dalam cara hidup mereka. Ketergantungan mereka
kepada alam sahara yang ganas telah memunculkan sikap penyerahan diri terhadap
alam. Situasi demikian, bangsa Arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan
sekeliling mereka sesuai dengan keingianan mereka sendiri. Mereka merasa lemah
dalam menghadapi kesukaran-kesukaran hidup. Akhirnya, mereka banyak bergantung
kepada sikap Fatalisme.
B.
Latar belakang munculnya
aliran jabariyah
Secara
istilah Jabariyah adalah menolak adanya perbuatan dari manusia dan menyandarkan
semua perbuatan kepada Allah. Dengan kata lain adalah manusia mengerjakan
perbuatan dalam keadaan terpaksa (majbur).
Menurut
Harun Nasution Jabariyah adalah paham yang menyebutkan bahwa segala perbuatan
manusia telah ditentukan dari semula oleh Qadha dan Qadar Allah. Maksudnya
adalah bahwa setiap perbuatan yang dikerjakan manusia tidak berdasarkan
kehendak manusia, tapi diciptakan oleh Tuhan dan dengan kehendak-Nya, di sini
manusia tidak mempunyai kebebasan dalam berbuat, karena tidak memiliki
kemampuan. Ada yang mengistilahlkan bahwa Jabariyah adalah aliran manusia
menjadi wayang dan Tuhan sebagai dalangnya.
Adapun
mengenai latar belakang lahirnya aliran Jabariyah tidak adanya penjelelasan
yang sarih. Abu Zahra menuturkan bahwa paham ini muncul sejak zaman sahabat dan
masa Bani Umayyah. Ketika itu para ulama membicarakan tentang masalah Qadar
dan kekuasaan manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan mutlak Tuhan. Adapaun tokoh yang
mendirikan aliran ini menurut Abu Zaharah dan al-Qasimi adalah Jahm bin Safwan, yang bersamaan dengan
munculnya aliran Qadariayah.
Pendapat
yang lain mengatakan bahwa paham ini diduga telah muncul sejak sebelum agama
Islam datang ke masyarakat Arab. Kehidupan bangsa Arab yang diliputi oleh gurun
pasir sahara telah memberikan pengaruh besar dalam cara hidup mereka. Di tengah
bumi yang disinari terik matahari dengan air yang sangat sedikit dan udara yang
panas ternyata dapat tidak memberikan kesempatan bagi tumbuhnya pepohonan dan
suburnya tanaman, tapi yang tumbuh hanya rumput yang kering dan beberapa pohon
kuat untuk menghadapi panasnya musim serta keringnya udara.
Harun
Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi demikian masyatalkat arab tidak
melihat jalan untuk mengubah keadaan disekeliling mereka sesuai dengan
kehidupan yang diinginkan. Mereka merasa lemah dalam menghadapi
kesukaran-kesukaran hidup. Artinya mereka banyak tergantung dengan Alam,
sehingga menyebabakan mereka kepada paham fatalisme.
Terlepas
dari perbedaan pendapat tentang awal lahirnya aliran ini, dalam Alquran sendiri
banyak terdapat ayat-ayat yeng menunjukkan tentang latar belakang lahirnya
paham jabariyah, diantaranya:
a.
QS ash-Shaffat: 96
b.
QS al-Anfal: 17
c.
QS al-Insan: 30
Selain
ayat-ayat Alquran di atas benih-benih faham al-Jabar juga dapat dilihat dalam
beberapa peristiwa sejarah:
a.
Suatu ketika Nabi menjumpai
sabahatnya yang sedang bertengkar dalam masalah Takdir Tuhan, Nabi melarang
mereka untuk memperdebatkan persoalan tersebut, agar terhindar dari kekeliruan
penafsiran tentang ayat-ayat Tuhan mengenai takdir.
b.
Khalifah Umar bin al-Khaththab
pernah menangkap seorang pencuri. Ketika ditntrogasi, pencuri itu berkata
"Tuhan telah menentukan aku mencuri". Mendengar itu Umar kemudian
marah sekali dan menganggap orang itu telah berdusta. Oleh karena itu Umar
memberikan dua jenis hukuman kepada orang itu, yaitu: hukuman potongan tangan
karena mencuri dan hukuman dera karena menggunakan dalil takdir Tuhan.
c.
Ketika Khalifah Ali bin Abu Thalib
ditanya tentang qadar Tuhan dalam kaitannya dengan siksa dan pahala. Orang tua
itu bertanya,"apabila perjalanan (menuju perang siffin) itu terjadi dengan
qadha dan qadar Tuhan, tidak ada pahala sebagai balasannya. Kemudian Ali
menjelaskannya bahwa Qadha dan Qadha Tuhan bukanlah sebuah paksaan. Pahala dan
siksa akan didapat berdasarkan atas amal perbuatan manusia. Kalau itu sebuah
paksaan, maka tidak ada pahala dan siksa, gugur pula janji dan ancaman Allah,
dan tidak pujian bagi orang yang baik dan tidak ada celaan bagi orang berbuat
dosa.
d.
Adanya paham Jabar telah mengemuka
kepermukaan pada masa Bani Umayyah yang tumbuh berkembang di Syiria.
Di
samping adanya bibit pengaruh faham jabar yang telah muncul dari pemahaman
terhadap ajaran Islam itu sendiri. Ada sebuah pandangan mengatakan bahwa aliran
Jabar muncul karena adanya pengaruh dari dari pemikriran asing, yaitu pengaruh
agama Yahudi bermazhab Qurra dan agama Kristen bermazhab Yacobit.
Dengan
demikian, latar belakang lahirnya aliran Jabariyah dapat dibedakan kedalam dua
factor, yaitu factor yang berasal dari pemahaman ajaran-ajaran Islam yang
bersumber dari Alquran dan Sunnah, yang mempunyai paham yang mengarah kepada
Jabariyah. Lebih dari itu adalah adanya pengaruh dari luar Islam yang ikut
andil dalam melahirkan aliran ini.
Adapun
yang menjadi dasar munculnya paham ini adalah sebagai reaksi dari tiga perkara:
pertama, adanya paham Qadariyah, keduanya, telalu tekstualnya
pamahaman agama tanpa adanya keberanian menakwilkan dan ketiga adalah
adanya aliran salaf yang ditokohi Muqatil bin Sulaiman yang berlebihan dalam
menetapkan sifat-sifat Tuhan sehingga membawa kepada Tasybih.
C. Ajaran-ajaran aliran Jabariyah
Adapun ajaran-ajaran Jabariyah dapat dibedakan
berdasarkan menjadi dua kelompok, yaitu ekstrim dan moderat.
Pertama, aliran ekstrim. Di antara tokoh
adalah Jahm bin Shofwan dengan pendaptnya adalah bahwa manusia tidak mempu
untuk berbuat apa-apa. Ia tidak mempunyai daya, tidak mempunyai kehendak
sendiri, dan tidak mempunyai pilihan. Pendapat Jahm tentang keterpaksaan ini
lebih dikenal dibandingkan dengan pendapatnya tentang surga dan neraka, konsep
iman, kalam Tuhan, meniadakan sifat Tuhan, dan melihat Tuhan di akherat. Surga
dan nerka tidak kekal, dan yang kekal hanya Allah. Sedangkan iman dalam
pengertianya adalah ma'rifat atau membenarkan dengan hati, dan hal ini sama
dengan konsep yang dikemukakan oleh kaum Murjiah. Kalam Tuhan adalah makhluk.
Allah tidak mempunyai keserupaan dengan manusia seperti berbicara, mendengar,
dan melihat, dan Tuhan juga tidak dapat dilihat dengan indera mata di akherat
kelak. Aliran ini dikenal juga dengan nama
al-Jahmiyyah atau Jabariyah Khalisah.
Ja'ad bin Dirham, menjelaskan tentang ajaran
pokok dari Jabariyah adalah Alquran adalah makhluk dan sesuatu yang baru dan
tidak dapat disifatkan kepada Allah. Allah tidak mempunyai sifat yang serupa
dengan makhluk, seperti berbicara, melihat dan mendengar. Manusia terpaksa oleh
Allah dalam segala hal.
Dengan demikian ajaran Jabariyah yang ekstrim
mengatakan bahwa manusia lemah, tidak berdaya, terikat dengan kekuasaan dan
kehendak Tuhan, tidak mempunyai kehendak dan kemauan bebas sebagaimana dimilki
oleh paham Qadariyah. Seluruh tindakan dan perbuatan manusia tidak boleh lepas
dari scenario dan kehendak Allah. Segala akibat, baik dan buruk yang diterima
oleh manusia dalam perjalanan hidupnya adalah merupakan ketentuan Allah.
Kedua, ajaran Jabariyah yang moderat
adalah Tuhan menciptakan perbuatan manusia, baik itu positif atau negatif,
tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya. Tenaga yang diciptakan dalam diri
manusia mempunyai efek untuk mewujudkan perbuatannya. Manusia juga tidak
dipaksa, tidak seperti wayang yang dikendalikan oleh dalang dan tidak pula
menjadi pencipta perbuatan, tetapi manusia memperoleh perbuatan yang diciptakan
tuhan. Tokoh yang berpaham seperti ini adalah Husain bin Muhammad an-Najjar
yang mengatakan bahwa Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi
manusia mengambil bagian atau peran dalam mewujudkan perbuatan-perbuatan itu
dan Tuhan tidak dapat dilihat di akherat. Sedangkan adh-Dhirar (tokoh
jabariayah moderat lainnya) pendapat bahwa Tuhan dapat saja dilihat dengan
indera keenam dan perbuatan dapat ditimbulkan oleh dua pihak.
D. Refleksi Pemahaman Aliran Jabariyah
Dalam paham Jabariyah, berkaitan dengan
perbuatannya, manusia digambarkan bagai kapas yang melayang di udara yang tidak
memiliki sedikit pun daya untuk menentukan gerakannya yang ditentukan dan
digerakkan oleh arus angin.
Pada perkembangan selanjutnya, paham Jabariyah
disebut juga sebagai paham tradisional dan konservatif dalam Islam dan paham
Qadariyah disebut juga sebagai paham rasional dan liberal dalam Islam. Kedua
paham teologi Islam tersebut melandaskan diri di atas dalil-dalil naqli (agama)
- sesuai pemahaman masing-masing atas nash-nash agama (Alquran dan
hadits-hadits Nabi Muhammad) - dan aqli (argumen pikiran). Di negeri-negeri
kaum Muslimin, seperti di Indonesia, yang dominan adalah paham Jabariyah.
Paham itu dapat dicermati pada suatu peristiwa
yang menimpa dan berkaitan dengan perbuatan manusia, misalnya, kecelakaan
pesawat terbang. Bagi yang berpaham Jabariyah biasanya dengan enteng mengatakan
bahwa kecelakaan itu sudah kehendak dan perbuatan Allah. Paham teologi Islam
tersebut membawa efek masing-masing. Pada paham Jabariyah semangat melakukan
investigasi sangat kecil, karena semua peristiwa dipandang sudah kehendak dan
dilakukan oleh Allah.
Dalam hal musibah, karena menyikapinya sebagai
kehendak dan perbuatan Allah, bagi yang berpaham Jabariyah, sudah cukup bila
tindakan membantu korban dan memetik "hikmat" sudah dilakukan. Sedang
hikmat yang dimaksud hanya berupa pengakuan dosa-dosa dan hidup selanjutnya
tanpa mengulangi dosa-dosa.
E. Dalil-dali Pemahaman Aliran Jabariyah
Dalil
yang diambil dari Al-Qur’an:
1.
Allah SWT berfirman, "Ítulah hari yang pasti terjadi. Maka barangsiapa
yang menghendaki, niscaya ia menempuh jalan kembali kepada Tuhannya." (QS.
An Naba : 29)
2. Firman Allah SWT : "Istri-istrimu adalah
seperti tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat
bercocok-tanammu itu sebagaimana saja kamu kehendaki. (QS. Al Baqarah : 223)
Fokus pengambilan dalil dari kedua ayat di atas,
bahwa Allah SWT memberikan kebebasan kepada manusia untuk menempuh jalan yang
dapat mengantarkannya menuju keridhaanNya. Allah juga memberikan mereka
kebebasan untuk mendatangi istri-istri mereka pada tempat yang ditetapkan
sekehendak mereka.
Dalil-dalil yang diambil dari
Hadits:
Rasulullah SAW bersabda : "Setiap orang
diantara kalian telah ditetapkan tempat duduknya di surga atau di neraka."
Lalu mereka bertanya, "Ya Rasulullah, mengapa kita tidak bersandar kepada
Kitab kita dan meninggalkan usaha?" Beliau menjawab, "Berusahalah
karena semua itu akan memudahkan untuk menuju apa yang telah ditakdirkan
kepadanya." (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalil yang diambil dari akal:
Setiap orang tahu bahwa dirinya mempunyai
kehendak dan kemampuan untuk mengerjakan keduanya sesuai dengan keinginannya
dan meninggalkan apa yang diinginkannya. Dia bisa membedakan sesuatu yang
terjadi karena keinginannya sendiri karena merasa bertanggungjawab terhadapnya
dan sesuatu yang tanpa disengaja sehingga dia merasa lepas tanggung jawab
terhadapnya. Seperti orang yang mimpi basah di siang bulan ramadhan, maka
puasanya tidak batal karena hal itu terjadi karena bukan pilihan orang itu.
Tetapi jika orang itu dengan sengaja melakukan onani sehingga keluar air mani,
maka batallah puasanya karena hal itu terjadi akibat kehendak dan
pilihannya. "(Yaitu) bagi siapa
diantara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat
menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan
semesta alam." (QS. At-Takwir : 28-29) Ayat tersebut menegaskan bahwa
manusia mempunyai kehendak yang masuk dalam kehendak Allah SWT.
Imam Ahmad pernah ditanya oleh seseorang yang
berkata bahwa Allah memaksa manusia atas semua perbuatan mereka. Beliau
menjawab, "Kita tidak berpendapat demikian dan kami mengingkarinya."
Beliau berkata, "Allah menyesatkan siapa yang berkehendak dan memberikan
petunjuk kepada siapa yang berkehendak.." Lalu datanglah kepadanya seorang
lelaki seraya berkata, "Seorang laki-laki berkata, "Allah memaksa
manusia untuk taat." Beliau menjawab, "Alangkah buruknya apa yang
dikatakannya."
F.
Tokoh dan Pemimpin Aliran
Jabariyah
1.
Ja'd Bin Dirham
Ia adalah seorang hamba dari bani Hakam dan tinggal
di Damsyik. Ia dibunuh pancung oleh Gubernur Kufah yaitu khalid bin Abdullah
El-Qasri.
Pendapat-pendapatnya :
a.
Tidak pernah Allah berbicara
dengan Musa sebagaimana yang disebutkan oleh Alqur'an surat An-Nisa ayat 164.
b.
Bahwa Nabi Ibrahim tidak pernah dijadikan
Allah kesayangan Nya menurut ayat 125 dari surat An-Nisa.
2.
Jahm bin Shafwan
Ia bersal dari Persia dan meninggal tahun 128 H
dalam suatu peperangan di Marwa dengan Bani Ummayad.
Pendapat-pendapatnya:
a.
Bahwa keharusan mendapatkan ilmu
pengetahuan hanya tercapai dengan akal sebelum pendengaran. Akal dapat
mengetahui yang baik dan yang jahat hingga mungkin mencapai soal-soal
metafisika dan ba'ts/dihidupkan kembali di akhirat nanti. Hendaklah manusia
menggunakan akalnya untuk tujuan tersebut bilamana belum terdapat kesadaran
mengenai ketuhanan.
b.
Iman itu adalah pengetahuan
mengenai kepercayaan belaka. Oleh sebab itu iman itu tidak meliputi tiga oknum
keimanan yakni kalbu, lisan dan karya. Maka tidaklah ada perbedaan antara
manusia satu dengan yang lainnya dalam bidang ini, sebab ia adalah semata pengetahuan
belaka sedangkan pengetahuan itu tidak berbeda tingkatnya.
c.
Tidak memberi sifat bagi Allah
yang mana sifat itu mungkin diberikan pula kepada manusia, sebab itu berarti
menyerupai Allah dalam sifat-sifat itu. Maka Allah tidak diberi sifat sebagai
satu zat atau sesuatu yang hidpu atau alim/mengetahui atau mempunyai keinginan,
sebab manusia memiliki sifat-sifat yang demikian itu. Tetapi boleh Allah
disifatkan dengan Qadir/kuasa, Pencipta, Pelaku, Menghidupkan, Mematikan sebab
sifat-sifat itu hanya tertentu untuk Allah semata dan tidak dapat dimiliki oleh
manusia.
G.
Ciri-Ciri Aliran Jabariyah
Diantara
ciri-ciri ajaran Jabariyah adalah :
- Bahwa manusia tidak mempunyai kebebasan dan ikhtiar apapun, setiap perbuatannya baik yang jahat, buruk atau baik semata Allah semata yang menentukannya.
- Bahwa Allah tidak mengetahui sesuatu apapun sebelum terjadi.
- Ilmu Allah bersifat Huduts (baru)
- Iman cukup dalam hati saja tanpa harus dilafadhkan.
- Bahwa Allah tidak mempunyai sifat yang sama dengan makhluk ciptaanNya.
- Bahwa surga dan neraka tidak kekal, dan akan hancur dan musnah bersama penghuninya, karena yang kekal dan abadi hanyalah Allah semata.
- Bahwa Allah tidak dapat dilihat di surga oleh penduduk surga.
- Bahwa Alqur'an adalah makhluk dan bukan kalamullah.
Qadha dan Qadar Serta Makna Takdir Allah
Menurut Jabariyah
Aliran Jabariyah berpendapat mengatakan segala
sesuatu yang terjadi pada manusia atau jagad raya ini meupakan kehendak Allah
semata tanpa peran serta sesuatu pun termasuk di dalamnya adalah perbuatan-perbuatan
maksiat yang dilakukan oleh manusia. Aliran Jabariyah mengibaratkan bahwa
perbuatan manusia tak ubah seperti dedanunan yang bergerak diterpa angin atau
dalam ilustrasi yang sangat sederhana bisa dicontohkan bahwa aliran Jabariyah
menggambarkan manusia bagaikan robot yang disetir oleh remote kontrol. Perbuatan,
Kehendak Manusia Dengan Qudrat Iradat Allah Menurut Jabariyah
Para
Ulama Pengikut aliran Jabariyah, berpendapat bahwa semua perbuatan yang
dilakukan oleh manusia merupakan kehendak dan ketetapan Allah. Manusia tidak
mempunyai peran atas segala perbuatannya. Perbuatan baik dan kejahatan yang
dilakukan oleh manusia merupakan Qudrat dan Iradat (kekuasaan atau kehendak)
Allah.
Ulama
aliran Jabariyah mengesampingkan usaha dan ikhtiar manusia. Dengan kata lain
manusia tidak mempunyai peran apa-apa atas kehendak dan perbuatannya, semuanya
berdasarkan Qadha dan Qadar Allah, Kalau semua perbuatan manusia merupakan
ketetapan dan kehendakan Allah mengapa manusia harus diberi pahala jika
menjalani suatu kebaikan. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Quran:
Artinya:
" Barangsiapa ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya, Niscaya Allah memasukannya
ke dalam surga yang mengalir didalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal
didalamnya; dan itulah kemenangan yang besar". (QS: 4: An-Nisa': 13)
Allah
juga akan memberikan siksa kepada hambaNya yang selalu berbuat dosa artinya
tidak mau ta'at kepada Allah dan rasul-Nya. Yakni tidak mau meninggalkan semua
larangan-Nya dan tidak mau menjalankan semua perintah-Nya. Sebagaimana firman
Allah:
Artinya:
"Dan Barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar
ketentuan-ketentuan-Nya, Niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang
ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan". (QS: 4:
An-Nisaa':14)
Dilihat
dari sisi lain pendapat 'Ulama Jabariyah kurang kuat karena: Untuk apa pula
Allah memberi petunjuk, kabar gembira dan memberikan peringatan melalui para
Rasul-Nya agar manusia dapat mengerti antara haq dan yang bathil sebagaimana
firman Allah:
Artinya:
"Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul melainkan sebagai pembawa berita
gembira dan sebagai pemberi peringatan" (QS:18: Al-Kahfi: 56)
Dari
beberapa Kutipan Ayat suci Al-Quran diatas maka pendapat ulama Jabariyah
menjadi lemah. Sementara itu Yusuf Al Qardhawi memandang bahwa aliran Jabariyah
hanya memandang satu sifat kekuasaan Allah dan tidak memandang keadilan dan
kebijaksanaan-Nya; sehingga semua perbuatan yang dilakukan disandarkan pada
takdir Allah. Dengan kata lain aliran Jabariyah menafikan fungsi dan peran
Rasul Allah serta ancaman yang akan diberikan kepada pelanggar (durhaka)
tatanan nilai Ilahiyah (syari'ah agama) dan pahala bagi para pelaksana
(bertaqwa) tatanan nilai Ilahiyah (sayri'ah agama). Hal ini menurut Jalaluddin
Ar-Rumi bahwa: Sekiranya manusia dalam keadaan terkekang seperti pendapat
aliran Jabariyah, maka tidak mungkin jika dia dibebani perintah dan larangan,
atau disuruh untuk menjalankan syari'at dan hukum Islam. Karena sesungguhnya
Al-Qur'an itu berisikan perintah dan larangan.
Jabariah
sebagai penolakan terhadap pandangan kaum qadariyah, munculnya kaum Jabariyah
yang berpendapat bahwa perbuatan manusia itu baik dan buruk, semuannya berasal
dari Allah. Jika perbuatan tersebut disebut sebagai perbuatan manusia, maka hal
ini hanya kiasan saja. Seperti saat kita menyatakan bahwa sungai itu mengalir,
padahal pada hakikatnya Tuhanlah yang mengalirkannya. Manusia menurut pandangan
kaum Jabariyah tak ubahnya seperti bulu ayam yang bertebangan ditiup angin
(karena itulah maka kaum Jabariyah dan kaum qadariyah dikatakan dua golongan
yang satu sama lainnya saling bertolak belakang. Berdasarkan keyakinan
seperti ini maka kaum Jabariyah memiliki pandangan yang meniadakan sifat dan
nama Allah, sementara Al-kalam (firman Allah) yang merupakan sifat Allah
menurut pendapat mereka adalah hadis (sesuatu yang baru).
·
Penolakan Terhadap Aliran
Jabariyah
Kelompok
jabariyah adalah orang-orang yang melampaui batas dalam menetapkan takdir
hingga mereka mengesampingkan sama sekali kekuasaan manusia dan mengingkari
bahwa manusia bisa berbuat sesuatu dan melakukan suatu sebab (usaha). Apa yang
ditakdirkan kepada mereka pasti akan terjadi. Mereka berpendapat bahwa manusia
terpaksa melakukan segala perbuatan mereka dan manusia tidak mempunyai
kekuasaan yang berpengaruh kepada perbuatan, bahkan manusia seperti bulu yang
ditiup angin. Maka dari itu mereka tidak berbuat apa-apa karena berhujjah
kepada takdir. Jika mereka mengerjakan suatu amalan yang bertentangan dengan
syariat, mereka merasa tidak bertanggung jawab atasnya dan mereka berhujjah
bahwa takdir telah terjadi.
Akidah
yang rusak semacam ini membawa dampak pada penolakan terhadap kemampuan manusia
untuk mengadakan perbaikan. Dan penyerahan total kepada syahwat dan hawa
nafsunya serta terjerumus ke dalam dosa dan kemaksiatan karena menganggap bahwa
semua itu telah ditakdirkan oleh Allah atas mereka. Maka mereka menyenanginya
dan rela terhadapnya. Karena yakin bahwa segala yang telah ditakdirkan pada
manusia akan menimpanya, maka tidak perlu seseorang untuk melakukan usaha
karena hal itu tidak mengubah takdir.
Keyakinan
semacam ini telah menyebabkan mereka meninggalkan amal shalih dan melakukan
usaha yang dapat menyelamatkannya dari azab Allah, seperti shalat, puasa dan
berdoa. Semua itu menurut keyakinan mereka tidak ada gunanya karena segala apa
yang ditakdirkan Allah akan terjadi sehingga doa dan usaha tidak berguna
baginya. Lalu mereka meninggalkan amar ma'ruf dan tidak memperhatikan penegakan
hukum. Karena kejahatan merupakan takdir yang pasti akan terjadi. Sehingga
mereka menerima begitu saja kedzaliman orang-orang dzalim dan kerusakan yang
dilakukan oleh perusak, karena apa yang dilakukan mereka telah ditakdirkan dan
dikehendaki oleh Allah.
Para
ulama Ahlu Sunnah wal jamaah telah menyangkal anggapan orang-orang sesat itu
dengan pembatalan dan penolakan terhadap pendapat mereka. Menjelaskan bahwa
keimanan kepada takdir tidak bertentangan dengan keyakinan bahwa manusia
mempunyai keinginan dan pilihan dalam perbuatannya serta kemampuannya untuk melaksanakannya.
Hal ini ditunjukkan dengan dalil-dalil baik syariat maupun akal.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
·
Kata "Jabariyah"
berasal dari kata bahasa arab "Jabara" yang artinya memaksa. Dan yang
dimaksud adalah suatu golongan atau aliran atau kelompok yang berfaham bahwa
semua perbuatan manusia bukan atas kehendak sendiri, namun ditentukan oleh Allah
SWT
·
Golongan Jabariyah pertama
kali muncul di Khurasan (Persia) pada saat munculnya golongan Qodariyah, yaitu
kira-kira pada tahun 70 H. Aliran ini dipelopori oleh Jahm bin Shafwan, aliran
ini juga disebut Jahmiyah. Jahm bin Shafwan-lah yang mula-mula mengatakan bahwa
manusia terpasung, tidak mempunyai kebebasan apapun, semua perbuatan manusia
ditentukan Allah semata, tidak ada campur tangan manusia.
·
Aliran Jabariyah muncul
karena 2 faktor, yaitu faktor politik dan Geografis
·
Ajaran-ajaran Jabariyah
dapat dibedakan berdasarkan menjadi dua kelompok, yaitu ekstrim dan moderat.
B.
Saran
Penyusun
menyadari akan banyaknya kekurangan dalam penyusunan makalah ini, maka dari itu
penyusun menyarankan kepada pembaca untuk mencari sumber-sumber yang relevan
mengenai masalah ini agar bisa memahami lebih dalam lagi. Dan hendaknya kita
menyadari betapa pentingnya hakikat manusia sebagai makhluk ciptaan-Nya yang
paling sempurna juga bahwa seorang individu tidak pernah sama dengan individu
yang lainnya.





