Jenis-Jenis Shaum



Jenis-Jenis Shaum
1.      Shaum wajib
a.    Puasa Ramadhan (QS. 2:185) atau penggantinya (QS. 2:186).
b.    Puasa nadzar, yaitu janji kepada Allah SWT untuk berpuasa (HR. Abu Daud).
c.    Puasa Kiffarah, yaitu karena melanggar sumpah atau larangan haji (HR. Jama’ah).
dan shaum sunnah
2.      Shaum Sunnah
a.    Puasa Senin-Kamis (dzalika yaumun wulidtu fihi wa yaumun bu’itstu, HR. Muslim dan Abu Daud no 7439).
b.    Puasa 6 hari di bulan syawwal (HR. jama’ah kecuali Bukhari dan Nasa’i)
c.    Puasa Arafah pada tanggal 9 Dzulhijjah (HR. Muslim).
d.    Puasa Ayyamil Bidh, yaitu pada tanggal 13,14, dan 15 setiap bulan Qamariyah (HR. Bukhari Muslim, al-lu’lu’ wal Marjan, no. 418).
e.    Puasa Asyura dan Tasu’a, yaitu tanggal 10 da 9 Muharram (HR. Bukhari Muslim).
f.     Puasa di bulan Sya’ban (HR. Nasa’I dan lain-lain.)
g.    Puasa di bulan-bulan haram: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab (HR. Abu Daud no. 2428; Ibnu Majjah no. 1741 dan Nasa’i).
h.    Puasa daud, yaitu berpuasa berselang sehari setiap waktu (HR. Bukhari Muslim dan lainnya)
i.     Puasa bujangan yang belum mampu menikah (Al-Bukhari)
3.      Shaum haram
a.    Puasa pada dua hari raya (HR. Bukhari Muslim) dan hari Tasyriq: 11,12, 13 Dzulhijjah (HR. Muslim).
b.    Puasa wishal (yaitu sampai lewat Maghrib), (HR. Bukhari Muslim) seperti: tapa, ngebleng, pati geni, mutih, ngalang, ngeplang, kungkum, dan berbagai puasa bid’ah lainnya.
c.    Puasa wanita yang nifas atau haidh (HR. Jama’ah)
d.    Puasa sepanjang tahun tanpa berbuka (HR. Ahmad dan An-Nasa’I menshahihkannya)
e.    Puasa yang membahayakan kondisi fisik (QS. 2/195).
f.     Puasa sunnah istri tanpa seizing suami (HR. Bukhari Muslim).
g.    Puasa pada hari yang diragukan 30 Sya’ban (HR. Bukhari)
h.    Penggunaan istilah haram dalam hal ini menurut jumhur Ulama. Sedangkan madzhab hanafiyah menyebutnya dengan Makruh Tahrim
4.      Shaum Makruh
a.    Puasa di Arafah pada hari Arafah (HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Hakim)
b.    Puasa hari Jum’at secara khusus (HR. Bukhari Muslim) atau Sabtu (HR. Muslim), jika tanpa sebab qadha’ terkecuali jika diikuti dengan puasa sehari sebelum Jum’at dan Sabtu atau sesudahnya.
c.    Puasa hari Sabtu secara khusus (diriwayatkan semua penulis sunan At Tirmidzi menghasankannya)
Puasa Akhir Sya’ban (diriwayatkan semua penulis sunan)