DI ANTARA PERKATAAN PARA TOKOH SUFI
Oleh: Dr. H.Agus Salam Rahmat MPd.
Sufi
adalah orang yang mengamalkan tasawuf atau sufisme. Tasawuf adalah ilmu
(ajaran) untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak,
membangun zhahir dan batin, untuk memperoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada
awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam islam, dan dalam
perkembangannya melahirkan tradisi mistisme islam. Tarekat (berbagai aliran
dalam sufi sering dihubungkan dengan Syiah, Sunni, cabang islam yang lain, atau
kombinasi dari beberapa tradisi. Pemikiran Sufi muncul di Timur tengah pada
abad ke 8, sekarang tradisi ini sudah tresebar ke seluruh belahan dunia
(Wikipedia.org/wiki/sufisme).
Tidak
sedikit orang yang mengaku sufi atau sedang menempuh tasawuf tapi dalam
fenomena lahiriyahnya terdapat sikap dan amalan yang kontropersial kurang
berkena dengan syariat. Padahal para tokoh sufi yang masyhur tidak seperti itu,
berikut penulis kemukakan gambaran sikap
aqidah dan syariah dalam perkataan atau tulisannya:
- Syekh Abdul Qodir Al Jaelani berkata: “ Setiap orang yang tidak mengikuti Nabi Muhammad saw, yang mana syariat beliau tidak berada di tangannya dan Al quran tidak berada di tangan satunya lagi, ia tidak akan sampai keapada Allah swt, dengan tarikatnya itu, bahkan ia sesat dan menyesatkan, sebab Al quran dan Sunnah rasul itu dua duanya adalah penunjuk jalan kepada Al Haq swt. (Al Fathurrabbani :91)
- Syekh Abul Kosim Al Junaid Rahimahullah (r.h) berkata: “ Semua tarikat adalah cacat kecuali yang mengikuti jejak Rasulullah saw. Dan tokoh sufi lainnya mengatakan: “ Tiada penolong kecuali Allah swt., tiada penunjuk jalan kecuali Rasulullah saw, tiada bekal kecuali ketakwaan, dan tiada amal kecuali kesabaran”. ( Risalah al muawwanah:14)
- Abu Hasan Al Warraq mengatakan ;” Seseorang hamba tidak akan sampai kepada Allah swt., kecuali dengan pertolongan Allah dan sesuai dengan jalan (syariat) kekasih-Nya (Muhammad saw.) dan kebenaran itu adalah lurusnya jalan ( istiqamatuttarikat) dalan agama dan mengikuti sunnah dalam menjalankan syariah. Dan tanda mencintai Allah adalah mengikuti kekasih-Nya (Muhammad saw.)” ( Al’itisham I : 92)
- Syekh Ibrahim Al Qommar berkata:” Tanda mencintai Allah adalah menaati dan mengikuti nabi-Nya., senada dengan perkataan Abu Bakr bin Sa’dan :” Berpegang teguh kepada Allah swt adalah menjaga diri dari kelalaian (Ghaflah), ma’siat, bad’ah dan kesesatan (aliran sesat). Dan sufi lainnya yaitu Ahmad bin Abi al Hawary menegaskan bahwa siapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak mengikuti sunnah Rasul saw., jelas-jelas amalannya itu bathil ( salah).( Al I’tisham, I: 93)
- Syekh Abu Yazid Al Bushthomi Berkata: “ Sesungguhnya ‘kewalian’ itu tidak akan tergapai oleh orang yang meninggalkan sunnah saw., meskipun karena kebodohan (tidak sengaja)….Dan Abu Umar AlZujaji mengatakan;” Orang-orang di zaman Zahiliyyah mengikuti apa yang dianggap baik oleh fikiran dan tradisinya, lalu datang Nabi saw., mengembalikan mereka ke syariat dan mengikuti sunnah. Akal (fikiran ) yang benar adalah yang dianggap baik oleh syariat, dan sebaliknya fikiran yang jelek adalah yang dianggap jelek oleh syariat. (al I”tisham, I :93) Dan beliau juga mrngatakan :” Minta tolongnya ( istighotsah) makhluk terhadap makhluk seperti minta tolongnya orang yang di penjara kepada yang penjara.”. Senada dengan perkataan Assajjad r.a bahwa permohonan orang butuh kepada yang butuh adalah kebodohan dan kesesatan fikiran.” (Ruhulma’ani ,V : 128) Yang dimaksud istighostah disini adalah memohon terhindar dari musibah.
- Al Fudhail bin I’yad berkata : “ Apabila amalan itu dilakukan dengan ikhlas, tapi tidak benar (tidak sesuai syariat), maka amalan itu tidak akan diterima.. Sebaliknya bila amalan itu benar (sesuai syariat), tapi dilakukan tidak dengan ikhlas, tetap amalan itu tidak diterima. Yang dimaksud dengan ikhlas adalah murni karena Allah, dan yang dimaksud dengan benar adalah mengikuti petuntuk Al Quran dan Sunnah. ( al Fatawa al Kubra, IV : 380)
- Muhammad bin Fadhal al Balkhy berkata : Islam akan lenyap karena empat hal ; Ummat tidak mengamalkan apa yang mereka tahu, mereka mengamalkan apa yang mereka tidak tahu, mereka tidak belajar terhadap apa yang mereka tidak tahu dan melarang orang lain untuk tahu (belajar). ( al I’tisham , I: 9
- Dalam kesempatan lain syekh Abdul Qodir Al-Jaelani r.a. dalam kitabnya Al-Fathul Rabbani mengatakan: “antara aku dan kamu sekalian tidak lain hanya nasihat (mengajak kepada kemaslahatan dan mencegah kerusakan). Aku menasihati kalian karena Alloh bukan untuk ku. (Fathul Rabbani: 85). “ wahai orang yang mengaku kepada makhluk tentang musibahnya, maka tidak akan membawa manfaat bagimu dan tidak pula membawa madharat padamu. Bila engkau bergantung pada mereka dan engkau masuk ke pintu Al-Haq Azza Wajalla, mereka akan menjauhkan mu dari –Nya, menjerumuskan mu pada kemurkaan Nya dan menutupmu dari Nya. Engkau wahai orang yang bodoh, engkau mengaku-ngaku berilmu, dari sejumlah kebodohan mu itu engkau mencari dunia bukan ke pemilik nya, engkau mencari keselamatan dari musibah dengan mengadu pada makhluk”. (Al Fathul Al Rabbani: 91).





